Setiap kami kembali ke Bali saya terkejut akan perubahan. Saat berangkat dari bandara kelihatannya papan-papan lebih bercahaya, gedung mall belanja makin besar dan mewah, dan lebih banyak ada barang-barang konsumer yang berasal dari dunia barat dan bersifat norak daripada yang saya ingat dari kunjungan sebelumnya.
Kali ini kejutan yang pertama terjadi pada saat sopir taksi di bandara mohon kami tunggu dengan koper-koper… di depan Starbucks.
Mendapat suatu ‘warung kopi’ Starbucks di bandara Ngurah Rai bukan sebuah kejutan pada diri sendiri. Dewasa ini, kue ‘maple scone’ dan kopi ‘non-fat latte’ cukup gampang didapat di tempat-tempat yang kemungkinannya sangat kecil beberapa tahun yang lalu. Barangkali kejutan yang paling nyata adalah cara ngomong si sopir taksi, dan cara mengucapkan kata asing tersebut sangat fasih dalam Bahasa Indonesianya yang berlogat Bali. ‘Tunggu sebentar, pak… di depan Starbucks, ya?’
Sebagai sebuah praktek (yakni ‘practice’, dalam arti filosofisnya), bahasa berubah terus-menurus—mungkin teristimewa di masyarakat yang bersifat kosmopolitan seperti Bali kontemporer. Hal ini mengingatkan kata favorit saya dari kamus lama Indonesia-Inggeris yang ditulis Echols dan Shadily… yaitu “merambokan,” dari kata asal “rambo.” Artinya, menurut kamus, “menghancurkan secara total.” Ternyata peran filem Sylvester Stallone yang terkenal menjadi kata kerja transitif. (Walaupun mesti saya mengakui belum pernah mendengar kata tersebut dipakai dalam wacana sehari-hari.)
Istilah gres dan cara berbicara yang baru merupakan suatu elemen penting dari semua bahasa yang masih hidup, dan bahasa Indonesia bukan kekecualian. Unsur-unsur bahasa Sanskerta, Arab dan Cina, tapi juga Belanda dan Inggeris, adalah aspek penting dari wacana sehari-hari kini. Dan, pada umumnya, keadaan linguistik ini mencerminkan kemajemukan kebudayaan (‘cultural complexity’) di daerah Asia Tenggara ini. Akan tetapi, bagaimana caranya menafsirkan dan merepresentasikan kemajemukan tersebut secara konsepsional?
Jurusan-jurusan akedemis yang kritikus, dari antropologi ke studi kebudayaan (‘cultural studies’), sudah lama mengenali masalah ini. Pada umumnya, solusi-solusi yang mereka kemukakan berbentuk istilah atau konsep baru — contohnya ‘sinkretisme’, ‘Great and Little Traditions’, ‘creolizaiton’, ‘glocality’ (!) dan ‘hybridity’. Apakah konsep-konsep seperti ini bisa mencapai tujuannya?
Dengan setiap istilah tersebut klaimnya hampir sama: bentuk-bentuk kebudayaan kontemporer merupakan akibat akhir dari sebuah sejarah yang cukup panjang dan terus-menerus berubah. Dan, sebagai akibat, pada dasarnya kebudayaan itu bersifat heterogen, atau majemuk — seperti Bahasa Indonesia, dengan kata me-Rambo-kan dan Starbucks. Didalam bidang pelajaran saya sendiri, kecendurungan tersebut bisa dilihat dalam frase-frase seperti ‘Saivo-Buddhism’, ‘Tantric Hinduism’ dan ‘Archipelago Sanskrit’. Sudah jelas ada juga contoh anekaragam di bidang-bidang pelajaran yang lain.
Pokoknya ialah masing-masing frase dan konsep tersebut bertujuan yang sama—yakni menunjukkan kemajemukan dari obyeknya, dan mencerminkan kondisi-kondisi historis dalam apa kemajemukan ini sempat terjadi. Misalnya, bahasa kesusastraan Nusa Tenggara dari suatu periode tertentu mempunyai beberapa unsur yang sama dengan bahasa yang kita dewasa ini kenali sebagai bahasa Sanskerta. Tapi, kalau diperbandingkan dengan Sanskerta, bahasa kesusastraan Nusa Tenggara tersebut juga berbeda dalam beberapa aspek… Disamping bentuk gramatika yang ‘korup’ (untuk contoh lain, lihat ‘Buddhist Hybrid Sanskrit’), ia juga mempunyai unsur-unsur dari bahasa asli daerah Nusa Tenggara. Jadi, apakah ‘Archipelago Sanskrit’ merupakan sebuah bentuk linguistik yang synkretis (‘a syncretic form’)?
Nampaknya, kalau suatu konsep seperti ‘sinkretisme’ atau ‘hybridity’ akan bermanfaat, kemungkinan dari kebalikannya — atau, paling sedikit, sebuah alternatif — perlu juga bisa jadi. Dari perspektif logika, alternatif tersebut adalah sebuah saat murni (yaitu Sanskerta, Hinduisme, tradisi dll. yang “sungguh”) sebelum kemunculan perubahan yang bersifat ‘hybrid’. Tapi, pada umumnya, kalau kita memperhatikan dan menyadari sejarah secara teliti, ternyata “saat murni” tersebut tidak begitu murni—itu juga bersifat majemuk. Dalam kata lain, itulah juga produk dari sebuah proses mencampur unsur-unsur dari berbagai sumber.
Dari pandangan ini, barangkali konsep-konsep seperti ‘sinkretisme’ dan ‘hybridity’ bisa mengajari kita lebih banyak tentang praktek kritikus kita sendiri daripada praktek-praktek sosial yang dimiliki masyarakat yang merupakan obyek dari penelitian kita. (Sebagai catatan pinggir, sudah jelas praktek kritikus kita juga merupakan sebuah praktek sosial.) Contohnya, saat murni yang tersebut (yakni bahasa Sanskerta yang “sungguh” dll.) bukan suatu saat asli yang bersifat homogen; akan tetapi, sebaliknya, itulah hanya saatnya kita berhenti bertanya tentang apa yang terjadi sebelumnya—atas alasan yang sembarangan atau karena ketidakberadaan bukti yang berwujud. Kalau begitu, ada sebuah kemungkinan nyata bahwa bahasa kritikus yang kita pakai untuk mengkonseptualisasikan kemajemukan hanya menunda proses esensialisasi budaya. Di dunia akademis, hampir tidak ada seorang pun yang masih menganuti (secara sengaja) suatu konsep kebudayaan yang esensialis (‘essentialist’)… Akan tetapi, apa dan bagaimana sinkretisme itu selain suatu proses dalam apa esens-esens kebudayaan (‘cultural essences’) dicampur-campur?
Pada akhirnya, itu sama saja kalau masalah yang kita bahas adalah ‘Archipelago Sanskrit’ ataupun Starbucks. Kalau direnungkan, dalam proses penyelidikan kritikus, saat yang sangat penting adalah saat bertanya—yakni jika kita menanyakan, dan sekaligus kita bikin komitmen pada asumsi-asumsi (atau ‘presupposition’) yang tertentu. Apakah kita bisa menafsirkan kepentingan dan dampak sosialnya dari keberadaan Starbucks di Bali tanpa menganuti suatu konsep ‘tradisi Bali’? Kalau bisa, bagaimana caranya? Kalau tidak, konsep tradisi yang milik siapa kita akan pilih? Dan atas kriteria yang mana?
Tags: antropolgi, Bali, Indonesia, kebudayaan, studi kebudayaan

October 5, 2010 at 10:48 pm |
Starbuck itu apa ya, bintang bucket. jangan-jangan hanya menjual bucket saja tapa isi. ” nak bali ” memang ada yang seperti i belog ( on story ). biar gagah coba-coba masuk ke foodcorner kelas Dunia. Beli ini beli itu. Tentang rasa, nomor sepuluh. Tapi mengaku huahhhh, enak cink. Padahal hanya cari sensasi.
Gde Aryanta Soetama meulis blak-blakan tentang orang bali menurut sudut pandang beliau. judulnya ” Dari Bule jadi Bali “. Tidak tahu apa maksudnya. orang bule yang suka ditiru orang bali apa orang bali salah memandang bule. karena Si Bule mau lihat Bali, si Bali sok tahu terus bergaya kayak Bule. Rancu, kacau balau.
Tapi. Di Bali yang suka pamer gaya barat , yang suka happy-hapy itu kebanyakna bukan orang Asli bali. Tahulah, duit orang bali itu sebenarnya bukan untuk itu.
Saya ingin ada orang melihat realita kesenjangan kaum bali asli dengan para pendatang. Agar dapat dibaca, siapa yang suka menjaga, siapa yang suka bikin onar, siapa yang suka curi kesempatan, dan siapa yang kebali hanya untuk ambil duit, pipis, tebal muka, memanipulasi lokal genius dan sebagainya.
saya melihat kesan. ” bali adalah bali, dan yang lain penghancur yang sembunyi dibalik tradisi. ikut makan tapi tidak mau cuci piring. ”
Ini cerita si pembantu yang jadi boss di bali. Si pembantu adalah keturunan I Belog. suatu saat si pembantu diajak jalan-jalan oleh majikanya yang pengusaha artshop. Diperjalanan dia ketemu dengan kolega majikanya. Orangnya sudah berumur sekitar 60 tahunan. Orang eropa, cakep.
Si eropa ini kenalan dengan si Pembantu ( kasi nama Koncreng Sajalah ) yang lama kelamaan jadi hubungan menikah. wahhhhh. keren man. si koncreng di gaet Bule. Hi hik, no body understend. Tiga bulan berlau sibule harus pulang kampung. meninggalkan bisnisnya dibali. Si koncreng nggak bisa ikut. kenapa. O ho. bisnisnya dibali harus tetap jalan. Kalau Papi pergi , Mami lah yang harus bekerja mengurus usaha. Ngertilah.
Sudah lima tahun berlalu, dan kalau dihitung si Papi datang ke Bali 7 samapi 8 kali. Tengok istri dan tengok bisnis.
Para tentangga pasti bilang Tengok istri dan tengok bisnis. Tapi dalam pikiran normal si Papi adalah Tengok bisnis dan tengok pembantu.
Nahhhhh. kelihatan kan, passport bisnisnya ternyata tidak diperlukan. cukup cari istri yang lugu dan tidak boleh pinter, export barang jadi murah dan lancar.
Maaf, nama dan pelaku disembunyikan. karena saya lupa kenalan itu bule namaya siapa dan si Koncreng sering ngasi job ke saya.
maaf tidak nyambung “Starbucks dan Tradisi”